Kamis, 14 Februari 2008

Aneka Ramuan Pencegah SARS . . . !

Dunia dilanda kepanikan luar biasa akibat wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) merebak sejak bulan November 2002 di Guangdong, Cina. Penyakit pernapasan akut yang disebabkan sejenis virus influenza ini tidak mempan diobati dengan antibiotika biasa. Namun, virus ini bisa ditangkal dengan cukup istirahat dan olahraga serta mengonsumsi beberapa tanaman obat berikut ini.

Sepasang suami istri di Hong Kong diberitakan terkena penyakit flu ganas ini. Sang suami menularkan virus ini kepada istrinya karena selama dia sakit, istrinya tetap menemani di sampingnya. Meski sama-sama kena SARS, si istri cepat pulih, sedangkan suaminya masih bergulat dengan penyakit yang telah merenggut sekitar seratusan nyawa ini.

�Si Istri cepat pulih karena ia memiliki kekebalan tubuh yang baik,� kata Dr. Amin Soebandrio, PhD, Cm, Microbiologist, Asisten Deputi Menteri Ristek untuk llrnu Kedokteran dan Kesehatan. Kekebalan tubuh yang baik, diakuinya, memang bisa jadi cara pencegahan dini menghadapi penyakit ini. Tentu di samping menghindari kontak fisik dengan orang yang sudah kena penyakit ini.

Menurutnya, meningkatkan kekebalan tubuh itu tidak susah. Caranya dengan cukup istirahat, berolahraga teratur, dan mengonsumsi makanan dengan gizi berimbang, khususnya jenis peningkat kekebalan tubuh. Dr. Amin menyarankan untuk tidak lupa mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C dan antioksidan.

Selain makanan tersebut, ada juga tanaman obat yang beberapa di antaranya telah diuji secara klinis mampu meningkatkan kekebalan tubuh :

1. Meniran

Tanaman ini secara tradisional dipercaya bisa menyembuhkan penyakit antara lain radang dan batu ginjal, susah buang air kecil, disentri, sakit ayan, hepatitis, serta rematik. Zat kimia tanaman mi yang sudah diketahul antara lain filantin, hipofilantin, kalium, damar, dan tannin.

Penelitian terbaru tentang meniran mengungkapkan bahwa tanaman ini bisa membantu mencegah berbagai macam infeksi virus dan bakteri serta mendorong sistem kekebalan tubuh. Tanaman ini sudah diteliti dan diproduksi menjadi tablet peningkat daya tahan tubuh. Produknya telah diuji preklinis dan kilnis selama tiga tahun.

Dr. Zakiudin Munasir, Sp.AK, ahil pediatrik imunologi dari Bagian Anak RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, telah melakukan penelitian dan membuktikan bahwa ekstrak meniran membantu meningkatkan kecepatan penurunan demam pada pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan atas.

Cara pemanfaatan :

Cara ini disarankan oleh Dr. Suprapto Ma�at dari Universitas Airlangga yang juga ikut menguji ekstrak tanaman meniran dalam upaya meningkatkan daya tahan tubuh. Ambil satu genggam daun meniran yang terdiri dari akar, batang, dan daun. Tumbuk sampai halus. Kemudian rebus bersama dua gelas air bersih. Tunggu sampai menjadi setengah gelas. Minum sekali setiap hari.

2. Jinten Hitam

Selain meniran, jinten hitam juga bisa dipakai sebagai cara alami untuk meningkatkan daya tahan tubuh. "Orang Arab sudah secara turun-temurun memanfaatkan jinten hitam untuk meningkatkan daya tahan tubuh," kata Dr. Suprapto. Berbeda dengan meniran, tanaman ini belum teruji secara klinis.

Cara pemanfaatan :

Siapkan satu sendok makan munjung jintan hitam. Gerus sampai kulitnya menjadi pecah. Setelah itu rebus dengan dua gelas air. Tunggu sampai air rebusan tersebut tersisa menjadi setengah gelas. Minum setiap hari agar daya tahan tubuh meningkat.

3. Mengkudu

Buah yang juga dikenal dengan nama pace atau noni ini telah lama dikenal sebagai obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hingga kini, penelitian terhadap buah buruk rupa ini terus dilakukan secara intensif.

Penelitian oleh Dr. Paul Heinike pada awal abad 20 mengungkapkan bahwa tanaman ini mengandung enzim proxeronase dan alkaloid proxeronine. Kedua zat ini akan membentuk zat aktif bernama xeronine di dalam tubuh. Zat ini akan dibawa aliran darah menuju sel-sel tubuh. Hasilnya, sel-sel itu akan lebih aktif, sehat, dan terjadi perbaikan-perbaikan struktur maupun fungsi.

Cara pemanfaatan :

Endah Lasmadiwati, ahli tanaman obat dari Taman Sringanis, Bogor, menganjurkan resep berikut untuk menikmati buah mengkudu. Siapkan dua buah mengkudu yang sudah tua. Cuci bersih kemudian simpan selama dua hari sampat benyek. Setelah itu remas-remas dalam dua gelas air. Saring dan sisihkan. Sementara itu, siapkan satu jari kunyit dan dua jari jahe. Bakar dan memarkan. Ambil satu jari kayu manis dan sereh serta tujuh buab kapulaga dan cengkeh. Bahan-bahan tersebut direbus dalam dua gelas air. Tunggu sampal mendidih dan berbau harum. Campurkan air rebusan bahan tersebut dengan buah rnengkudu yang telah disaring. Tambahkan sedikit garam dan gula jawa secukupnya.

4. Lidah Buaya

Dr. Suprapto menyarankan konsumsi lidah buaya supaya tubuh lebih fit dan segar. Tanaman ini juga bermanfaat untuk menjaga stamina orang yang sudab tua dan mudah sakit. Endah juga mengungkapkan bahwa lidah buaya bermanfaat untuk meringankan penyakit batuk dan bronkitis.

Cara pemanfaatan :

Siapkan setengah telapak tangan lidah buaya. Cuci bersih dan dikupas. Tambahkan tigaperempat gelas air. Blender air bersama gel lidah buaya tersebut. Tambahkan madu secukupnya.

5. Apel

Buah ini mengandung vitamin C yang merupakan antioksidan dan berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh. Konowalchuck J. pada tahun 1978 mempublikasikan artikel berjudul �Antiviral Effect of Apple Beverages�. Ia menyebutkan bahwa sari buah apel sangat baik diminum untuk melawan berbagai serangan infeksi virus. Menurut buku �Natural Remedies�, dosis apel yang bisa melindungi tubuh dari virus adalah tiga kali sehari satu buah atau segelas jus apel.

6. Pepaya

Buah tropis ini merupakan sumber betakaroten yang baik, sehingga mampu mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh zat radikal bebas. Setengah buah pepaya ukuran sedang sehari mampu memenuhi kebutuhan vitamin C harian seorang manusia dewasa. Tidak hanya itu, pepaya juga mengandung sedikit kalsium dan besi. Buah ini amat dianjurkan untuk orang sakit dan lanjut usia karena dagingnya mudah dikunyah dan ditelan.

7. Stroberi

Buah ini mengandung vitamin C paling tinggi di antara semua beri dan kebanyakan buah. Secara tradisional, stroberi dipakai untuk membersihkan sistem pencernaan makanan. Buah ini juga berguna membantu penyerapan zat besi dari sayur mayur yang dikonsumsi.

8. Jambu Batu

Buah jambu batu seberat 90 gram, menurut buku �Foods that Harm Foods that Heal�, ternyata mengandung vitamin C lima kali lebih banyak dibandingkan dengan jeruk. Buah jambu biji seberat itu bila dikonsumsi setiap hari mampu memenuhi kebutuhan vitamin harian orang dewasa, sehingga bisa menjaga kesehatan dan kebugaran.

9. Jeruk

Vitamin C sering diidentikkan dengan buah jeruk. Buah ini memang mengandung vitamin C yang bermanfaat untuk menjaga pertahanan tubuh dari infeksi bakteri dan virus. Kandungan antioksidan dalam jeruk mampu mencegah kerusakan karena zat radikal bebas. Antioksidan ini terdapat dalam membran di antara segmen daging buahnya. Untuk memperoleh manfaat optimum dari buah ini, sebaiknya makan buah segar daripada minum jusnya

Orangtua yang Tidak Mengimunisasi Balitanya, Bisa Dipenjara

Tujuh Orang Sekeluarga di Depok, Lumpuh Layuh

JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan sweeping selama satu minggu mulai 1 Juni 2005 untuk mencari balita yang belum mendapat vaksinasi polio.

"Kami akan sweeping dari rumah ke rumah untuk mencari balita yang belum mendapat imunisasi polio. Tujuannya agar tidak ada balita diDKI yang tidak mendapat imunisasi polio," kata Kepala Dinkes DKI Jakarta, Chalik Masulili, dalam jumpa pers di Balai Kota, Senin (30/5).

Karena bersifat wajib, lanjutnya, orangtua yang tidak membawa balitanya untuk mendapat imunisasi polio, dapat dikenai sanksi sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Penanggulangan Wabah. Sanksi yang diberikan dapat berupa denda sampai ancaman kurungan penjara selama satu tahun.

Menurut dia, tindakan sweeping merupakan bagian dari program imunisasi polio massal yang dilakukan serentak di seluruh wilayah DKI Jakarta pada 31 Mei 2005. Sweeping akan dilakukan berdasarkan data balita di tiap RT yang sudah mengikuti program imunisasi polio massal sehingga mudah untuk mendeteksi balita mana yang belum mendapat vaksinasi polio.

Chalik mengatakan, program imunisasi polio massal yang dilakukan Pemprov DKI wajib diikuti semua balita, baik yang sudah mendapat imunisasi polio maupun belum. Pasalnya, pelaksanaan imunisasi polio massal kali ini, bersifat territorial yang bertujuan untuk memblokir penyebaran virus polio di Jakarta.

Terkait dengan itu, balita yang sudah mendapat imunisasi polio di rumah sakit atau klinik, tetap wajib mengikuti imunisasi polio massal. orangtua tidak perlu khawatir balitanya akan kelebihan dosis karena vaksin polio yang digunakan sangat aman.

Chalik juga mengatakan, anggaran yang dikeluarkan Pemprov DKI untuk pelaksanaan program imunisasi massal hanya sebesar Rp 2,94 miliar.

Sebelumnya, Pemprov DKI menyiapkan dana Rp 10 miliar yang diambil dari dana tidak terduga APBD 2005 untuk pelaksanaan program imunisasi massal.

"Dana yang terpakai untuk program imunisasi massal yang akan dilaksanakan dua kali, hanya Rp 2,94 miliar. Soalnya, vaksinasi dan buku petunjuk untuk pelaksanaan imunisasi polio kami peroleh secara cuma-cuma dari Departemen Kesehatan dan Unicef," kata Chalik.

Dia mengungkapkan, dana Rp 2,94 miliar itu, digunakan untuk membayar transportasi dan konsumsi petugas, pendirian pos imunisasi, dan pendataan serta penyusunan laporan terkait program imunisasi polio massal.

Chalik menjelaskan, untuk pelaksanaan program imunisasi polio massal, pihaknya telah mendirikan 8.028 pos pelayanan.

Di setiap tiga RT, terdapat satu pos, bahkan di terminal bus dan stasiun kereta api. Sebanyak 40.140 petugas sudah disebarkan. Setiap pos pelayanan akan diisi lima petugas. Sedangkan jumlah balita yang sudah terdata mencapai 705.200. "Ada kemungkinan jumlah balitanya meningkat," kata Chalik.

Lumpuh

Sementara itu, tujuh anggota keluarga Amin (70), yang berdomisili di Parung Poncol RT 05/02, Kelurahan Duren Mekar, Sawangan, Depok, lumpuh layuh tanpa diketahui pasti apakah mereka terserang virus polio atau tidak.

H Mad Khotib, Lurah Duren Mekar, Kecamatan Sawangan Depok membenarkan hal tersebut kepada wartawan ketika berkunjung ke sana baru-baru ini.

Tujuh anggota dari satu keluarga tersebut kini berusia antara 17 hingga 55 tahun. Mereka adalah Sadiah (55) mulai lumpuh sejak tahun 1973 ketika berusia 23 tahun, Marfuah (39) lumpuh tahun 1984 lalu ketika berusia 18 tahun, Suryadi (36) lumpuh tahun 1980 saat berusia 11 tahun, Hoerudin (31) lumpuh sejak tahun 1988 ketika usia 14 tahun, Tabroni (28) lumpuh sejak tahun 1988 ketika usia 11 tahun, Kholid (25) lumpuh tahun 1993 lalu ketika berusia 13 tahun, dan Nyai Latifah (17) lumpuh sejak tahun 1996 lalu ketika berusia 8 tahun.

Kabag Infokom Pemkot Depok, Sudrajat mengatakan kepada Pembaruan, Senin (30/5), pejabat Wali Kota Depok, Warma Sutarman sudah mengunjungi keluarga Amin di Sawangan dan memberikan sejumlah bantuan.

"Memang betul, keluarga Amin terkena lumpuh layuh, namun masih perlu diteliti secara khusus apakah penyebab kelumpuhan itu. Yang pasti, kasus keluarga itu sudah mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Depok", katanya.

Sementara itu, mulai hari ini, Selasa (31/5), sejak pagi hingga sore, secara serentak di enam kecamatan Kota Depok diselenggarakan Pekan Imunisasi Regional secara massal bagi anak-anak usia 0-59 bulan.

Sebanyak 142.711 anak balita Kota Depok diperkirakan akan mengikuti imunisasi polio yang akan digelar di 957 Posyandu dan tempat-tempat keramaian seperti pasar atau terminal

Waspadalah terhadap pemanis buatan !!!

Makanan manis yang dikombinasikan dengan warna-warna menarik sungguh membuat anak kecil tertarik. Apalagi kalau makanan itu empuk sehingga mudah dikunyah. Belum lagi kalau dibentuk sebagai minuman dingin yang dibekukan, seperti es krim atau serbuk es yang dituangi sirup.

Meski banyak digemari anak-anak, makanan manis yang banyak dijual di pasaran ini perlu diwaspadai. Pasalnya, banyak produk makanan, terutama produk industri rumah tangga, yang menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula.

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) RI Dedi Fardiaz mengungkapkan, di Indonesia masih banyak permasalahan terkait dengan penggunaan pemanis buatan. Meski sudah ada ketentuan batas maksimum yang diizinkan, penggunaan pemanis buatan masih sering dilakukan semena-mena melebihi batas maksimum yang diperbolehkan.

Produk-produk yang melanggar ketentuan ini, menurut Dedi, umumnya dibuat oleh para perajin dan pedagang makanan jajanan serta industri rumah tangga yang belum mendapat pembinaan atau penyuluhan.

Pemakaian pemanis buatan banyak dipakai pedagang kecil dan industri rumahan karena dapat menghemat biaya produksi. Harga pemanis buatan jauh lebih murah dibandingkan dengan gula asli. Pemanis buatan hanya sedikit ditambahkan untuk memperoleh rasa manis yang kuat.

Hasil kajian terbatas yang dilakukan Badan POM di beberapa sekolah dasar (SD) di Malang, Jawa Timur, menemukan ada konsumsi pada level yang tidak aman pada penggunaan bahan pemanis buatan sakarin dan siklamat. Dari anak-anak SD yang diteliti, ada konsumsi siklamat mencapai 240 persen dari nilai ADI (acceptable daily intake).

Sedangkan konsumsi sakarin ditemukan sebesar 12,2 persen nilai ADI. ADI diartikan sebagai jumlah maksimum senyawa kimia yang bisa dikonsumsi setiap hari secara terus-menerus tanpa menimbulkan risiko pada kesehatan. Senyawa kimia yang dimaksud adalah bahan tambahan pangan dan pemanis buatan. Nilai ADI dinyatakan dalam miligram per kilogram berat badan.

Badan POM hanya melakukan kajian terhadap siklamat dan sakarin karena disinyalir pemanis buatan ini digunakan tanpa batas oleh pedagang jajanan anak sekolah. Sakarin dan siklamat harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pemanis lainnya, seperti aspartam, acesulfam, alitam, dan neotam.

Overdosis

  • Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta mengatakan, hasil temuan Badan POM itu belum memperhitungkan faktor toksisitas sinergis.

Menurut Marius, asupan terhadap pemanis buatan bukan hanya berasal dari makanan, tetapi dapat juga berasal dari rokok, kosmetik, food suplement, produk-produk farmasi, termasuk resep dokter yang diracik dengan tambahan pemanis buatan.

Karena tidak mempertimbangkan toksisitas sinergis, maka level yang aman untuk penggunaan pemanis buatan hanya 45 persen nilai ADI. Siklamat pada manusia mempunyai nilai ADI maksimun 11 mg/kg berat badan (BB). Jadi kalau pada anak ditemukan siklamat 240 persen ADI, berarti kandungan pemanis buatan itu sudah mencapai 240 persen/0,45 = 533,3 persen. Jika dikonversikan, berarti kandungan siklamat sebesar 5,333 x 11 mg/kg = 58,63 mg/kg BB.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Institut Pertanian Bogor, Eddy Setyo Mudjajanto, yang mendalami soal pemanis buatan mengatakan, di Amerika dan Jepang penggunaan siklamat sudah dilarang. Demikian juga dengan sebagian besar negara-negara di Eropa.

Sedangkan untuk sakarin, meski tidak dilarang di Amerika dan Jepang, tetapi penggunaannya mulai banyak berkurang karena keamanannya dianggap meragukan. Pada hewan percobaan, sakarin dianggap bisa menimbulkan kanker kandung kemih.

Sementara menurut Marius, penggunaan siklamat juga sudah dilarang di ASEAN, kecuali Indonesia yang masih membolehkan siklamat. Jumlah jenis pemanis buatan yang digunakan di masing-masing negara ASEAN berkisar dua-lima jenis. Sedangkan di Indonesia ada 13 jenis pemanis buatan yang diizinkan penggunaannya dalam produk-produk pangan.

Ketigabelas jenis pemanis buatan itu adalah aspartam, acesulfam-K, alitam, neotam, siklamat, sakarin, sukralosa, dan isomalt serta lima lagi yang termasuk ke dalam kelompok poliol, yaitu xilitol, maltitol, manitol, sorbitol, dan laktitol.

Hanya untuk diet

  • Penggunaan pemanis buatan memang tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut Eddy, pemanis buatan sebetulnya hanya boleh dikonsumsi oleh orang yang sedang diet gula (penderita diabetes melitus).

�Makanan tradisional buatan home industry yang menggunakan pemanis buatan jelas melanggar aturan. Pasalnya, pemanis buatan bukan untuk konsumsi orang sehat,� tutur Eddy.

Eddy menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih makanan, terutama makanan yang mempunyai rasa manis, agar terhindar dari pemanis buatan. Ada beberapa ciri dari produk yang menggunakan pemanis buatan, yaitu :

  • Makanan/minuman yang diberi pemanis buatan mempunyai rasa pahit ikutan (after taste), terutama sakarin.
  • Minuman yang diberi pemanis buatan lebih encer dibandingkan dengan minuman yang menggunakan gula.

Beda Siklamat dan Sakarin

  • Siklamat adalah pemanis buatan yang masih populer di Indonesia. Pemanis buatan ini merupakan garam natrium dari asam siklamat.

Bedanya dengan sakarin, siklamat menimbulkan rasa manis tanpa rasa ikutan (tidak ada after taste-nya). Sifat siklamat sangat mudah larut dalam air dan mempunyai tingkat kemanisan 30 kali gula. Dalam perdagangan dikenal sebagai Assugrin, Sucaryl, dan Sucrosa.

Sedangkan sakarin merupakan garam natrium dari asam sakarin. Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 200-700 kali gula. Dalam perdagangan dikenal dengan nama Gucide, Glucid, Garantose, Saccharimol, Saccharol, dan Sykosa. Harga sakarin paling murah dibanding dengan pemanis buatan lainnya. Karena itu, sakarin banyak digunakan pedagang kecil.

Pemanis buatan banyak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Siklamat dan sakarin dapat menyebabkan kanker kandung kemih dan migrain. Siklamat memunculkan banyak gangguan bagi kesehatan, di antaranya tremor, migrain dan sakit kepala, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan gangguan seksual, kebotakan, dan kanker otak.